Artikel

Menelisik Modal Kecerdasan Soekirman

Oleh : Taslim Moeis, S.Psi, MBA, CBA

Ketika berbicara tentang sosok Pak Soekirman, saya segera teringat pada pemikiran Howard Gardner, seorang ahli psikologi perkembangan dan profesor pendidikan dari Graduate School of Education Harvard University. Pada tahun 1983, Gardner dalam bukunya yang legendaris Frames of Mind (Basic Books Inc, 1983), memperkenalkan konsep tentang kecerdasan majemuk (multiple intelligence).

Di dalam buku itu, pada pokoknya Gardner mengemukakan bahwa kecerdasan atau inteligensi adalah kemahiran dan keterampilan seseorang, untuk memecahkan masalah dan kesulitan yang ditemukan dalam hidupnya, sehingga ia mencapai sukses dengan menggunakan kombinasi dari inteligensi yang dimilikinya. Inteligensi yang dimaksud oleh Gardner terdiri 9 macam, yang meliputi kecerdasan logical/mathematical, visual/spatial, verbal/linguistic, kinesthetic, musical/rithmic, naturalist, interpersonal, intrapersonal dan existential intelligence.

Pemikiran Gardner menjadi relevan, karena dari pengertian dan macam inteligensi yang dikemukakannya, kita dapat menelisik kira-kira kombinasi kecerdasan manakah yang menjadi modal kehidupan Pak Soekirman, yang telah berhasil mengantarkannya dari seorang kondektur sudako dan glanter, menjadi Bupati Serdang Bedagai.

Sebelum sampai pada diskusi tentang modal kecerdasan Soekirman, ada baiknya disinggung sedikit soal kondektur sudako dan glanter itu. Dalam buku Membangun Peradaban Bersama Masyarakat Marjinal (Bitra Indonesia, 2003) dikisahkan bahwa sekira bulan Mei tahun 1978, saat serangan hama wereng melanda wilayah Kabupaten Deli Serdang, orang tua Soekirman hampir saja putus asa karena tak sanggup membiayai kuliah anaknya yang saat itu memasuki tahun ketiga di Fakultas Pertanian USU. Namun Soekirman bertekad untuk terus menyelesaikan kuliahnya, dengan melakukan “berbagai pengiritan”. Ia tak lagi indekost dan memilih kehidupan sebagai seorang nomaden, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Kadang ia menumpang menginap di kantin kampus, asrama mahasiswa, pelataran rumah sakit, bahkan menurut kisah di buku itu, Pak Soekirman pernah menyulap gudang ayam sebagai kamar kostnya.

Selanjutnya diceritakan pula bahwa untuk menambah uang sakunya, Soekirman pernah melakoni hidup dengan menjadi seorang kondektur sudako (sebutan untuk angkutan kota mini di Medan) jurusan Padang Bulan-Sambu. Akibatnya badan Soekirman menjadi hitam legam dihajar terik matahari. Namun lama kelamaan karena dirasa pekerjaan tersebut terlalu menyita waktu dan tenaganya, Soekirman kemudian memutuskan berhenti menjadi kondektur.

Ia kemudian berusaha memperoleh pendapatan lain dengan menerima jasa pengetikan, khusus bagi teman-teman sekuliahnya yang tengah menyiapkan skripsi atau membuat makalah. Meski masih harus hidup nomaden, tapi ia merasa lebih lega bisa mendapatkan tambahan uang saku dari pekerjaan yang jauh lebih ringan dari kondektur sudako. Di samping itu, ia lebih punya waktu untuk aktif terlibat pada banyak kegiatan di kampus, antara lain mengikuti diskusi “bawah tanah” dengan para senior tentang politik, korupsi sampai kepincangan sosial yang terjadi di tanah air. Ia tak jarang harus berhadapan dengan resiko diintai, diculik dan dipenjara, akibat kegiatannya itu. Tapi ia justeru bangga karena diskusi-diskusi itu, telah mengasah kepekaan dan kepeduliannya terhadap penderitaan sesama, menciptakan keterampilannya membangun perkawanan dengan para aktifis lintas agama, suku dan ras, serta membentuk keberaniannya untuk melakukan perlawanan terhadap kemapanan, yang menindas masyarakat marjinal. Pada saat-saat demikian, ia bangga meski secara ekonomi ia miskin, interaksinya dengan para aktivis senior kampus telah membuatnya merasa mengalami pengayaan secara intelektual. Oleh karenanya, ia tak malu menyebut dirinya gelandangan, tapi gelandangan terhormat atau glanter.

Menyebut diri sebagai glanter itu tampaknya sederhana, tapi sesungguhnya tidaklah demikian. Secara psikologis, penyebutan istilah glanter itu adalah cara mengobati penderitaan batin melalui kalimat-kalimat jenaka. Tidak semua orang memiliki kemampuan menertawakan penderitaan diri sendiri, dan itu menurut Gardner membutuhkan kecerdasan yang disebutnya sebagai kecerdasan verbal atau linguistic intelligence.

Selain kemampuan merangkai kata menjadi kalimat-kalimat jenaka, menurut Gardner orang-orang dengan kecerdasan verbal dapat dikenali antara lain melalui kesenangannya membaca, berkorespondensi dan menulis, kemampuannya berbicara secara fasih, efektif, sederhana dan logis kepada berbagai pendengar dengan aneka tujuan, ketekunannya mempelajari dan memahami budaya secara mendalam, kegandrungannya pada karya sastra, syair, puisi, kesenangannya berdiskusi dan berdebat, serta kemampuannya dalam berbahasa asing termasuk bahasa di luar bahasa Ibunya.

Rasanya sebagian besar indikator kecerdasan verbal versi Gardner di atas, dimiliki oleh Soekirman. Dengan kecakapan berbahasa asing dan bahasa di luar bahasa Jawa sebagai bahasa Ibunya, seperti Bahasa Batak, Bahasa Melayu, Batak Karo, dan Minangkabau, terbuka kesempatan yang luas baginya untuk mempelajari dan memahami budaya secara lebih mendalam, dan menguasai lintas disiplin ilmu, yang kelak menjadi modal utamanya dalam memimpin masyarakat.

Dalam penguasaan bahasa asing misalnya, ia berbahasa Inggris dengan sangat baik. Semasa menjadi aktifis LSM atau sebelum masuk dunia birokrasi, ia tercatat beberapa kali mengikuti kursus singkat di beberapa negara. Pada tahun 1985, ia pergi ke Filipina untuk mengikuti Short Course of Regional Training Development Strategies and Planning for farmers community SEARCA-SEAMED. Selepas dari Filipina ia kemudian pergi belajar ke University Dalhovsie Kanada tentang Environment Impact Assesment (EIA). Tiga tahun kemudian, tepatnya 1988, ia berangkat ke Jepang untuk mengikuti Short Training of Organic Farming For Asian Rural Leaders. Pada tahun 1998, ia mengikuti International Training On Participatory Working and Training Method in Self-Help Promotion di Jerman.

Setelah menjadi birokrat dan menjabat Bupati Serdang Bedagai, Soekirman juga tercatat berkali-kali mewakili pemerintah di Fora Internasional. Sejauh yang terpantau di media, bulan November 2016, ia terpilih bersama 8 Kepala Daerah di Indonesia untuk mengikuti progam kuliah singkat (bersertifikat) di University Of California Irvine, Amerika Serikat. Di sana ia belajar banyak tentang “Regional Development Strategy in Linking Businesses, Higher Learning lnstitutions, Local Resources, and Local Government”. Dalam forum di kampus yang termasuk top five rank dunia tersebut, Soekirman mendapat pujian karena sebagai wakil dari Kepala Daerah peserta program, ia mampu menjelaskan dengan bahasa yang sangat menarik tentang budaya Indonesia.

Pada bulan Oktober 2018, Soekirman diundang sebagai Pembicara Utama (keynote speaker) pada Forum Dunia HAM di Gwangju Korea Selatan. Forum internasional dengan tema Whom do We Live with Diversity, Inclusiveness, and Peace tersebut, dihadiri oleh 26 negara se-Asia Pasifik. Tidak saja sebagai keynote speaker, ia juga memperoleh penghormatan untuk memimpin rombongan saat acara ziarah mengunjungi National Cemetery of South Korea.

“Karirnya” sebagai pembicara di forum internasional terus berlanjut. Pada bulan September 2019 Soekirman mendapat kehormatan sebagai keynote speaker pada acara Inter Religious Peace Confrence (Konferensi Perdamaian Agama) di Zanzibar Tanzania. Kegiatan yang mengusung tema “How to strengthen potential of religious Actors in Promoting Peace”, dihadiri oleh perwakilan dari 11 Negara Asia, Afrika dan Eropa.

Selain bahasa Inggrisnya yang mumpuni, Soekirman juga menguasai bahasa daerah terutama bahasa Batak dengan sangat baik. Dengan kemampuannya itu, ditambah kecintaannya yang mendalam terhadap kebudayaan, mendorongnya mendalami sejarah dan seluk beluk budaya Batak, sastra Batak, sampai perkembangan agama Kristen di tanah Batak.

Kecintaannya terhadap bahasa dan sastra Batak, ia wujudkan dengan menulis cerpen berbahasa Batak dengan judul “Parlombu-lombu” (Si Gembala Sapi). Atas karyanya yang dinilai luar biasa dalam melestarikan bahasa daerah tersebut, ia dianugerahi Hadiah Sastra Rancage Tahun 2017 oleh Yayasan Kebudayaan Rancage Bandung. Dari deretan penerima hadiah sastra bergengsi tersebut, Pak Soekirman adalah satu-satunya penulis karya sastra yang menulis di luar bahasa Ibunya.

Pergumulannya yang panjang dengan permasalahan pemberdayaan petani dan masyarakat pedesaan, menumbuhkan kesadaran pada diri pak Soekirman bahwa aspek paling mendasar dalam kehidupan masyarakat adalah budaya. Oleh karena itu kecintaannya pada kebudayaan, tampaknya tak pernah surut sampai hari ini. Dan sepertinya itu pula yang menjadi senjata Pak Soekirman paling ampuh dalam berkomunikasi, mendekati, merebut hati, mengarahkan dan memimpin masyarakat.

Kepiawaiannya dalam berkomunikasi sesuai budaya masyarakat, dan perhatiannya yang dalam terhadap pelestarian budaya lokal, telah memincut hati Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Bersama sembilan Kepala Daerah lain yang dianggap berkarya luar biasa untuk kebudayaan, ia mengikuti kontestasi peraih Anugerah Kebudayaan PWI. Dihadapan Dewan Juri yang terdiri dari para prominent people di bidang kebudayaan, ia memperesentasikan gagasan dan menceritakan langkah-langkah nyatanya dalam melestarikan kebudayaan. Pada akhirnya setelah melalui penilaian yang ketat, Dewan Juri memutuskan Soekirman terpilih untuk menerima Anugerah Kebudayaan PWI. Mengapresiasi kerja-kerja nyata Soekirman di dalam memajukan kebudayaan, salah seorang Juri bahkan menyebut Soekirman sebagai “Budayawan yang nyambi sebagai Bupati”. Anugerah Kebudayaan PWI itu diserahkan oleh Ketua Umum PWI Pusat disaksikan oleh Presiden RI, pada puncak Hari Pers Nasional di Banjarmasin, 8 Februari 2020 yang lalu.

Puncak dari kecerdasan verbal berupa pemahaman budaya bahkan lintas budaya dan lintas agama dari seorang Soekirman, saya kira terjadi ketika pada bulan Juli 2018, ia sebagai orang Jawa Muslim berbicara dengan demikian fasih dalam bahasa Batak, tentang sejarah dan budaya Batak, serta sejarah dan perkembangan gereja di tanah Batak, di sebuah forum penting yakni Konsultasi Nasional Gereja HKBP, yang dihadiri Presiden, Menko Kemaritiman dan Gubernur DKI, serta tentu saja Ephorus HKBP dan seribuan pemimpin puncak HKBP se Indonesia.

Video tentang pidato kebudayaan Pak Soekirman pada acara Konsultasi Nasional Gereja HKBP tersebut, telah ditonton oleh 203 ribu orang di kanal Youtube, diiringi dengan ratusan komentar berupa kekaguman dan rasa hormat dari orang Batak, terhadap kedalaman pengetahuan dan kecintaan Pak Soekirman terhadap budaya Batak. Diantara ratusan ribu orang penonoton youtube tersebut, di dalamnya termasuk saya sendiri. Bahasa Batak saya yang sangat minim, tak pernah mengahalangi saya untuk tetap menonton video itu sampai akhir, bahkan sampai mengulang dua kali saking menariknya.

Dengan bahasa Batak yang minim, darimana pula saya tahu kalau penjelasan Soekirman demikian dalam dan impresif?. O itu gampang, lihat dan denger saja tepuk tangan panjang, kata-kata “ima tutu” yang bertalu-talu, ketawa hadirin yang hampir selalu hadir di setiap paragraf. Itu kiranya sudah lebih dari cukup sebagai bukti dahsyatnya pidato budaya seorang Soekirman. Banyak orang bilang, sangatlah sulit meyakinkan orang Batak, kecuali karena dua hal, kedalaman pengetahuan dan kedalaman pergaulan.

Kedalaman pengetahuan tentang budaya sebagai kecerdasan verbal seorang Soekirman sudah kita temukan buktinya. Lalu bagaimana dengan kedalaman pergaulan, yang menurut indikator Gardner termasuk dalam kecerdasan interpersonal. Apakah kecerdasan interpersonal itu merupakan kombinasi atau pasangan dari kecerdasan verbal, yang mengantarkan Soekirman meraih kesuksesan?

Menurut Gardner, seseorang yang memiliki kecerdasan interpersonal cenderung menyukai dan efektif dalam membimbing, mengasuh dan mendidik orang lain, interaksinya hangat penuh simpati dan empati, pandai mendengarkan dan menyenangkan orang lain, sensitif pada minat dan motif orang, terampil berkomunikasi, menyukai persahabatan dan pertemanan, senang menyelesaikan dan memediasi konflik, dan pandai menempatkan diri.

Terkait pertemanan dan persahabatan, seorang Soekirman memang tampaknya tak pernah kekurangan teman dan sahabat. Jejaring pertemanannya tidak terbangun secara instan, melainkan bertumbuh karena melewati masa-masa sulit secara bersama, baik semasa ia kecil, dan semasa ia aktif dalam pergerakan mahasiswa di kampus dan pergerakan pemberdayaan masyarakat, maupun sahabat yang diperolehnya setelah ia menjadi birokrat.

Meskipun terbatas, saya beruntung berjumpa dengan beberapa sahabat Soekirman pada semua masa itu. Saya bertemu dengan temannya sewaktu kecil, ada yang menemaninya ketika ngangon sapi dan membawa pedati, dan ada pula sahabat kentalnya ketika gandrung menulis puisi dan mengelola organisasi sahabat pena. Semua sahabatnya itu menyimpan dan suka menceritakan kenangan indah mereka bersama Soekirman.

Tak terbilang pastinya jumlah sahabat yang ia bangun ketika aktif sebagai mahasiswa pergerakan, dan aktifis pergerakan pemberdayaan masyarakat. Dalam dua acara resmi, saya mendengar kesaksian dua tokoh nasional tentang indahnya persahabatan mereka bersama Soekirman. Kesaksian pertama datang dari Bapak Sofyan Tan, seorang tokoh pendidikan dan pembauran yang kini menjadi anggota DPR RI dari Partai PDI Perjuangan. Dalam sambutannya pada peresmian SMA Negeri 2 Perbaungan, ia berkisah bagaimana semasa muda, tak terhitung kalinya ia “pulang” ke rumah Soekirman. Ia menyebut berkunjung sebagai pulang, karena di rumah Soekirman, ia memperoleh solusi dari banyak masalah yang sedang dihadapinya, sehingga ia menyebut Soekirman bukan lagi hanya sahabat, melainkan sudah menjadi keluarganya.

Kesaksian kedua datang dari Ketua Komnas HAM RI, Ahmad Taufan Damanik. Dalam pidato pada acara pencanangan Sekolah Ramah HAM di SD Negeri Kerapuh Dolok Masihul, ia berkisah bahwa di kala gerakan reformasi sedang mekar digelorakan mahasiswa, rumah Soekirman dan ibu (ia menyebutnya Bang Kirman dan Kak Mar), menjadi shelter bagi banyak aktifis Sumatera Utara, termasuk dirinya. Mereka datang ada yang untuk “perbaikan gizi” memperoleh voeding agar tetap sehat dan kuat, adapula yang ingin memperoleh voeding intelektual dengan berdiskusi bersama Soekirman sebagai senior mereka. Dalam acara yang sama, Ketua Komnas HAM itu bercerita, aktifis-aktifis yang dulu sering “numpang makan” di rumah pak Soekirman itu, kini tersebar hampir di seluruh Indonesia, dan banyak diantara mereka kini menjadi tokoh-tokoh partai, tokoh di pemerintahan, dan tak sedikit pula yang sukses di dunia usaha.

Sementara tentang sahabat yang ia jalin selama menjabat sebagai birokrat, juga tak kalah banyaknya. Sekali waktu Soekirman pernah bercerita, salah seorang putranya minta izin untuk berangkat ke Jember, ingin berkenalan dengan keluarga kekasihnya dan (kalau mendapat sambutan positif) ingin membicarakan rencana pertunangan. Namun sesampai di kota itu, sang putra ragu untuk datang sendirian. Ia berkonsultasi dengan ayahnya, dan Soekirman sempat bingung juga siapa yang bisa dia mintai tolong untuk mengantarkan putranya ke rumah calon menantu. Tiba-tiba ia teringat seorang sahabat, yang sudah lama sekali tidak berkomunikasi, sampai ia kehilangan nomor HPnya. Sahabatnya itu kalau tidak salah dahulunya Ketua DPRD. Soekirman lalu menyuruh putranya mencari nama itu, dan ternyata sahabat Soekirman itu sekarang telah menjadi seorang Kyai terkemuka dan memiliki pondok pesantren yang masyhur di Jawa Timur. Sang putrapun sowan ke tempat Pak Kyai, dan demi mengingat persahabatannya dengan Soekirman, Pak Kyai dengan senang hati menemani sang putra datang ke rumah pujaan hatinya. Mungkin karena melihat kesungguhan hati anak muda yang datang dari Medan, dan kuatnya cinta anak Medan dengan putrinya, ditambah pula kedatangan Kyai yang diseganinya, perkenalan dan perundingan tentang rencana pernikahan bersama orang tua calon mempelai wanita berjalan dengan lancar.

Saya beruntung bertemu langsung dengan Pak Kyai yang dimaksud, saat akad nikah putra Soekirman di Jember. Lebih beruntung lagi melihat indahnya perjumpaan dua sahabat yang sudah lama tak berkomunikasi ini. Mereka bertukar cerita dan saling mendoakan.

Ada satu lagi sahabat Soekirman yang datang pada saat akad nikah itu, yakni Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo. Karena kedekatan persahabatan mereka, sang Bupati yang dokter spesialis kandungan itu, rela datang dari jauh naik kereta api dari Yogyakarta, dan langsung terbang ke Jakarta setelah akad nikah selesai. Dalam nasehat perkawinan yang disampaikannya, ia mengingatkan kedua mempelai untuk menghormati dan menghargai persahabatan, sebagaimana telah dicontohkan oleh Pak Soekirman dan dirinya. Kini Bupati Kulonprogo dua periode itu, menjabat sebagai Kepala BKKBN Republik Indonesia.

Tidak saja dengan orang penting dan berpangkat, seorang Soekirman juga menjalin pertemanan dengan orang-orang biasa, termasuk dengan diri saya. Sekira pertengahan tahun 2016, pintu pagar rumah saya diketuk orang, setelah saya buka ternyata ada seorang lelaki berpeci, berpakaian biasa, bersendal dan datang dengan berjalan kaki. Kami saling bertegur sapa, “Saya Soekirman”, katanya. Saya tentu saja kaget dan baru teringat, kalau sehari sebelumnya diberitahu Kadis Pendidikan Serdang Bedagai Bapak Joni Walker Manik, bahwa sekali waktu Pak Bupati akan mampir ingin konsul tentang bakat dan minat putranya. Saya masih ingat betul, agak kikuk mengambil kursi untuk beliau duduk, karena saat itu kantor kami sangat sempit, berhimpitan dengan rumah tempat tinggal kami sekeluarga. Di tengah kikuknya saya dan staf saat itu, Soekirman ternyata santai saja, ia memang terampil sekali mencairkan suasana, sampai akhirnya kami ngobrol lama ngalor ngidul, meski baru berjumpa saya segera merasakan bahwa ia adalah teman diskusi yang hangat, yang berempati dan senang menghargai pendapat orang lain. Dari obrolan itu, saya baru tahu kalau asal mula kantor Yayasan Bitra Indonesia, yang kini sudah berkembang pesat itu, dahulunya berada beberapa rumah saja dari rumah kami. Ingat sekali pesan Soekirman saat itu, “Rumah ini jangan dijual atau ditinggalkan, rezeki atau hokinya jalan ini bagus”. Saya menawarkan untuk mengantar ketika beliau berpamitan, tapi ia menolak dan pulang dengan berjalan kaki. Sejak saat itu sampai sekarang, saya menghormati Soekirman sebagai sosok yang peduli, hangat, bersahaja dan apa adanya.

Saya merasa beruntung mengenal dan bersahabat dengan Soekirman. Tapi tentu Soekirmanlah yang lebih beruntung, karena memiliki banyak sahabat sejati di banyak tempat. Budi baik yang ditanamnya dalam persahabatan, pastinya akan berbuah kesejatian. The friend in need is the friend indeed, Teman-teman sejati Soekirman, pada waktunya akan selalu merasa terpanggil untuk memberikan bantuan saat ia memerlukannya.

Dari bahasan tentang kecerdasan majemuk Howard Gardner dan tampilan perilaku Soekirman sehari-hari, kiranya sudah dapat ditelisik modal kecerdasan yang mengantarkan Soekirman ke jenjang suksesnya, yakni kombinasi antara inteligensi verbal dan inteligensi interpersonal. Ia memiliki kedalaman pengetahuan dan pemahaman terhadap bahasa dan budaya, serta keluasan pergaulan, berkat kehangatan, kepekaan, kepedulian dan kemauannya menjalin pertemanan dan persahabatan dengan siapa saja, tanpa sekat agama, suku, ras, dan strata ekonomi dan pendidikan.

Mungkin ada pertanyaan yang menggantung di kepala kita, apakah kombinasi kecerdasan itu menjamin Soekirman akan selalu sukses meniti karirnya di masa depan? Jawabannya adalah Iya, sepanjang kelemahan yang menyertai kombinasi dua macam inteligensi itu dapat diminimalisir di dalam diri Soekirman.***

Penulis adalah seorang analis bakat dan perilaku, Managing Director TMC Indonesia, Konsultan Pendidikan Kabupaten Serdang Bedagai, dan anggota Dewan Perpustakaan Provinsi Sumatera Utara. Menyelesaikan pendidikan S2 Psikologi di Universite de Province Aix Marseille Perancis tahun 2004.

Show More
Close